GENERASI MUDA

GENERASI MUDA
Bagaimana semestinya ?
Oleh : Endri Karwandi (11.21.0638)
Mahasiswa STMIK Amikom Yogyakarta


Pepatah Arab mengatakan syubbanul Yaum Rijalul Ghad, yang artinya pemuda masa kini adalah pemimpin di waktu yang akan datang. Kiranya pepatah ini cukup relevan jika dikaitkan dengan konteks pembangunan negara. Nasib sebuah bangsa, apakah akan melangkah maju atau mundur di masa depan, memang sangat tergantung pada kondisi remajanya. Jika para generasi mudanya optimis, semangat, dan bekerja keras, tentulah nasib bangsa tersebut akan cerah. Namun sebaliknya, jika para pemudanya loyo, pesimis, dan pemalas, tinggal tunggu waktu saja kapan bangsa tersebut akan gulung tikar digerus perubahan zaman.
Peran pemuda sebagaimana diakui oleh Bung Karno, dimana beliau mengatakan, “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kalimat diatas menunjukan bahwa pemuda adalah motor penggerak perubahan, dimana tidak dapat dilakukan kalangan tua. Sejarah telah menorehkan tintanya, bahwa dalam setiap momen penting perubahan bangsa ini senantiasa melibatkan kaum muda sebagai lokomotif penggeraknya. Peran pemuda dalam perubahan sosial bangsa bukannya sebuah isapan jempol. Jika perubahan penting bangsa ini dapat dikategorikan menjadi beberapa tahap, maka pada semua tahapan, peran pemuda selalu mengambil andil sebagai katalisator perubahan tersebut.
Prof. Dr. Nur Syam, M.Si mengatakan Generasi muda adalah the leader of tomorrow. Makanya di tangan kaum mudalah nasib sebuah bangsa dipertaruhkan. Jika kaum mudanya memiliki semangat dan kemampuan untuk membangun bangsa dan negaranya, maka sesungguhnya semuanya itu akan kembali kepadanya. Hasil pembangunan dalam aspek apapun sebenarnya adalah untuk kepentingan dirinya dan masyarakatnya. Peran pemuda dalam sejarah negara dan bangsa Indonesia pertama kali dapat dilihat dari kebangkitan bangsa tahun 1908 atau tepatnya ketika berdiri Boedi Oetomo tanggal 20 Mei 1908. Melalui proses kebangkitan bangsa ini, maka para pemuda telah menggelorakan semangat agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tidak terserak-serak dalam arti wilayah, suku, ras, agama dan sebagainya akan tetapi telah memiliki kesadaran berorganisasi sebagai persyaratan untuk kebangkitan nasional. Mereka dikenal sebagai generasi 08.
Salah satu tonggak lain, persatuan dan kesatuan bangsa sebenarnya ketika terjadi Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Hal ini berarti bahwa pemuda telah memiliki peran yang sangat signifikan dalam proses pembentukan negara kesatuan Republik Indonesia. Melalui Sumpah Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa Indonesia merupakan titik awal bagi proses pembentukan negara bangsa yang kemudian dikenal sebagai negara dan bangsa Indonesia. Kongres para pemuda di tahun tersebut tentunya tidak bisa dibayangkan seperti rapat umum di zaman sekarang. Rapat Umum para pemuda kala itu tentu berada di bawah bayang-bayang kekuasaan kaum kolonialis, sehingga akan terdapat banyak kesulitan yang dihadapi. Meskipun begitu, para pemuda dengan sangat antusias dan semangat akhirnya dapat mencetuskan gagasan mengenai Indonesia pasca penjajahan, Indonesia merdeka. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai generasi tahun 28.
Mencermati terhadap gerakan para pemuda ini, maka kiranya tidak salah jika kemudian para pemuda dapat menjadi agent of social change, baik dalam skala nasional maupun lokal. Gerakan para pemuda dalam kiprahnya ini juga memberikan catatan bahwa ada siklus 20 tahunan, di mana para pemuda memainkan peranan signifikan dalam kehidupan bangsa dan negara.
(Dr. A’idh Al Qarni, MA, 2005) dalam bukunya Jadilah Pemuda Kahfi menyebutkan beberapa hal yang semestinya menjadi komitmen yang dimiliki sebagai generasi muda, agar benar-benar generasi muda terlebih lagi sebagai pemuda islam untuk dapat dijadikan dambaan umat sebagaimana berikut :
1.      Komitmen dalam beraqidah
Belajar dari kisah Habib bin Zaid Radhiyallahu Anhu, seorang pemuda yang cerdik dan cerdas. Dengan tegar, Habib berangkat menemui Musailamah Al-Kadzdzaab. Lalu Musailamah meminta untuk murtad dari agama islam. Habib menolak. Akhirnya Musailamah memotong sebagian anggota tubuhnya, sehingga terjatuh ketanah. Namun Habib tetap menolak untuk murtad. Lalu Musailamah memotong kembali bagian tubuhnya yang lain, namun dia tetap tegar dan menolak untuk murtad. Untuk ketiga kali anggota tubuhnya dipotong lagi, hingga seluruh jasadnya habis terpotong, Habib tidak bergeming dan tidak murtad dari Islam.
2.      Komitmen pribadi
Hendaknya kita menjadi seorang yang alim dam mengetahui cara berbicara yang baik, percaya kepada diri sendiri, dan terbebas dari segala bentuk perbudakan kepada selain Allah Ta’ala.
3.      Komitmen dalam berpenampilan
Hendaknya kita memakai pakaian yang rapi, indah, dan menarik, sehingga, di hadapan manusia kita dipandang sebagai seorang yang sarat dengan nilai-nilai keagamaan. Rasulullah Alaihish Sholatu Wassalam bersabda sebagai Hadits yang diriwayatkan Muslim,
إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan (HR Muslim)

Wallahu A’lam Bish Showab


Daftar Referensi :

1.      Al Qarni A’idh. 2005. Jadilah Pemuda Kahfi. Solo : Aqwam Jembatan Ilmu.
3.      http://nursyam.sunan-ampel.ac.id/?p=115 diunduh : Tanggal 6 Juni 2013.
Rajasa Hatta. 2012. Kaum Muda Membaca Indonesia, Jakarta : DCSC Publishing.

Komentar